Senin, 27 Oktober 2008

Bunaken

Semua orang sudah pernah mendengar tentang Bunaken, sebuah kawasan taman laut yang terkenal akan keindahannya. Bunaken, nama yang dulu hanya menjadi impian di saat remaja. Selesai mengadakan pameran di Bitung kami segera berangkat ke Manado karena harus kembali ke Jakarta hari kamis. Pagi itu kami berangkat dengan menggunakan Dian taksi menuju Manado, kami akan menempuh perjalanan sekitar 1 jam. Tarif Bitung-Manado adalah 150 ribu rupiah. Senang rasannya menikmati perjalanan pagi karena bisa melihat pemandangan sepanjang jalan. Seperti umumnya pemandangan pulau sulawesi yang berkontur pantai kemudian pegunungan, sepanjang mata memandang terlihat perkebunan kelapa , tak heran kopra menjadi salah satu komoditas penting di wilayah ini, jangan salah minyak goreng kelapa asli di sulawesi bila digunakan untuk mengolah makanan akan terasa sangat nikmat, tidak seperti minyak goreng kemasan.

Kami tiba di manado jam 10 pagi, langsung menuju hotel Regina yang terletak di Jl. Kol.Soegiono(di Jakarta mungkin seperti di wilayah gelodok), Hotel ini bertarif 179 ribu semalam hotel yang bersih dengan fasilitas air hangat, shower, tv kabel, double bed dan breakfast. Jam 11 siang kami bersiap-siap ke Bunaken, berhubung lupa bawa baju berenang kami pergi ke mall untuk membeli perlengkapan berenang dan makan siang. Mall ini besar (sorri lupa namanya) berdiri diatas sebidang tanah yang merupakan hasil reklamasi pantai sepanjang 1 km (wah merusak ekosistem alami pantai tuh).

Tak lama kami menuju dermaga yang berjarak 200 meter dari mall, ternyata boat yang kami sewa telah tertambat di dermaga. Sebuah kapal yang besar berwarna putih dan bermesin 2 siap mengantar kami ke bunaken, kapal ini dilengkapi dengan 2 buah kolam di tengah kapal yang ditutupi kaca dan bisa diturunkan sehingga bisa melihat keindahan bawah laut tanpa berenang di dalamnya, kapal bisa menampung sekitar 20 orang dan bertarif 600 ribu pulang pergi. Perjalanan manado-bunaken ditempuh selama 1 jam, dengan kekuatan penuh, kapal terloncat-loncat menerjang ombak yang lumayan besar, terasa seperti sedang arung jeram, tapi tanpa dayung dan helm.

Ketika mendekati wilayah perairan berwarna kehijauan, bagian kapal yg seperti kolam, diturunkan dan wow kita bisa melihat beraneka ikan berenang di bawah kapal berwarna-warni, bintang laut berwarna biru, terumbu karang beraneka warna, dan seperti ikan buntal berwarna coklat dengan motif pokadot putih, dan di sisi kapal kita melihat segerombolan ikan sedang makan di permukaan air (sayang tidak bawa alat pancing, gagal deh makan malam ikan segar) indah sekali. Selanjutnnya kami menuju kepulau untuk ganti baju, karena tidak mungkin ganti baju di kapal karena semuanya cowok, hanya aku berdua temanku yang cewek. Selanjutnya kami menyewa snorkel dan fin dengan tariff 50 ribu. Kita naik kapal kembali dan berangkat ke lokasi snorkeling, kapal berhenti di kedalaman 50-120 meter, semua sudah siap dengan peralatan snorkeling dan sunblock, satu-persatu kami terjun, byuur..ups…sepertinya aku mendarat di kepala temanku, wah semoga dia gak pingsan. Karena melihat pemandangan bawah laut yang indah lita langsung berenang ke terumbu karang terdekat, yang dipenuhi ikan –ikan berbagai ukuran dan warna, seru rasanya mengejar mereka semua, kemudian ada salah satu teman yang berenang sambil menaburkan nasi ke air, dan terlihat ikan berebut makan nasi tersebut, duuuhh keren sekali, ombak hari itu lumayan besar, karena beberapa kali mukaku tertampar ombak, kami bersnorkeling selama 3 jam, pukul 4 sore kami naik ke kapal dan menuju pulau untuk minum teh dan ganti baju kemudian pulang ke hotel dan mampir sebentar di toko kawanua untuk membeli oleh-oleh khas Manado seperti kue Bagea, sagu keju, kacang kenari, T-shirt dll. Cuaca saat itu hujan dan kami pulang ke hotel dengan perasaan senang.



Pulau Dewata Bali



Geografi

Sawah di puri Gunung Kawi

Pulau Bali adalah bagian dari Kepulauan Sunda Kecil sepanjang 153 km dan selebar 112 km sekitar 3,2 km dari Pulau Jawa. Secara astronomis, Bali terletak di 8°25′23″ Lintang Selatan dan 115°14′55″ Lintang Timur yang mebuatnya beriklim tropis seperti bagian Indonesia yang lain.

Gunung Agung adalah titik tertinggi di Bali setinggi 3.148 m. Gunung berapi ini terakhir meletus pada Maret 1963. Gunung Batur juga salah satu gunung yang ada di Bali. Sekitar 30.000 tahun yang lalu, Gunung Batur meletus dan menghasilkan bencana yang dahsyat di bumi. Berbeda dengan di bagian utara, bagian selatan Bali adalah dataran rendah yang dialiri sungai-sungai.

Ibu kota Bali adalah Denpasar. Tempat-tempat penting lainnya adalah Ubud sebagai pusat seni terletak di Kabupaten Gianyar; sedangkan Kuta, Sanur, Seminyak, Jimbaran dan Nusa Dua adalah beberapa tempat yang menjadi tujuan pariwisata, baik wisata pantai maupun tempat peristirahatan.

Sejarah

Artikel utama: Sejarah Bali

Penghuni pertama pulau Bali diperkirakan datang pada 2500 SM yang bermigrasi dari Asia. Zaman prasejarah kemudian berakhir dengan datangnya orang-orang Hindu dari India pada 100 SM.

Di zaman kerajaan Majapahit, hampir seluruh nusantara beragama Hindu namun seiring datangnya Islam, berdirilah kerajaan Islam di nusantara yang menyebabkan runtuhnya Majapahit sekitar tahun 1500. Orang-orang Hindu banyak yang menyingkir dari Pulau Jawa ke Bali.

Orang Eropa yang pertama kali menemukan Bali ialah Cornelis de Houtman dari Belanda pada 1597. Belanda lewat VOC pun mulai melaksanakan penjajahannya di tanah Bali, menyebabkan terjadinya perang puputan yang melibatkan seluruh rakyat baik pria maupun wanita termasuk rajanya.

Sejak berdirinya Republik Indonesia, Bali sudah menjadi bagian dari negara kesatuan tersebut.

Demografi

Lahan sawah di Bali

Penduduk Bali kira-kira sejumlah 4 juta jiwa, dengan mayoritas 92,3% menganut agama Hindu. Agama lainnya adalah Islam, Protestan, Katolik, dan Buddha.

Selain dari sektor pariwisata, penduduk Bali juga hidup dari pertanian dan perikanan. Sebagian juga memilih menjadi seniman. Bahasa yang digunakan di Bali adalah Bahasa Indonesia, Bali, dan Inggris khususnya bagi yang bekerja di sektor pariwisata.

Transportasi

Di Pulau Bali, tidak terdapat rel kereta api namun jaringan jalan sudah tersedia khususnya ke daerah-daerah tujuan wisatawan. Sebagian besar penduduk memiliki kendaraan pribadi dan memilih menggunakannya karena jalur kendaraan umum tidak tersedia dengan baik kecuali taksi.

Jenis kedaraan umum di Bali antara lain:

  1. Dokar (Kendaraan dengan menggunakan hewan kuda sebagai alat penarik)
  2. Ojek (Kendaraan Umum dengan menggunakan sepeda motor)
  3. Bemo (Kendaraan Umum sejenis mikrolet)
  4. Bemo dalam kota
  5. Bemo luar kota (dengan jenis lebih besar)
  6. Taksi
  7. Bus antar kota atau kabupaten.
  8. Bus luar pulau.

Dari dan ke

Antara Pulau Bali dan Jawa, tersedia jasa penyeberangan laut melalui pelabuhan Gilimanuk menuju Ketapang menggunakan kapal ferry yang memakan waktu antara 30 hingga 45 menit. Begitu juga dengan penyeberangan antara Pulau Bali dan Lombok, penyeberangan laut melalui pelabuhan Padang Bay menuju Lembar memakan waktu sekitar 4 jam.

Untuk transportasi udara dilayani oleh Bandara Internasional Ngurah Rai. Landas pacu dan pesawat terbang yang datang dan pergi bisa terlihat dengan jelas dari pantai.

Pelabuhan Ratu

Wisata Pelabuhan Ratu
Mencari Ombak demi Kepuasan Diri


SH/Bayu Dwi Mardana
Deburan ombak dan pasir pantai selalu mengundang wisatawan.


Pelabuhan Ratu – Ombak tak pernah sama di mata orang. Gelombang laut yang menghasilkan suara gemuruh itu selalu membuat kesan tersendiri. Ada yang kagum, ada pula yang penasaran. Orang yang takut pun juga ada. Biasanya, ketakutan mereka dikaitkan dengan sesuatu yang berbau mistik. Pastinya, hampir setiap orang terkesan ketika berjumpa dengan pantai yang berombak. Makin pas tersaji bersama keindahan panorama sekitar.

Ksenangan memandang ombak ternyata bisa jadi obat jenuh yang mujarab. Bukti ini makin kuat saat daerah pantai dengan ombak besar selalu dijejali manusia ketika musim libur. Tak usah jauh-jauh, coba saja perhatikan kesibukan sekitar pantai selatan Palabuhan Ratu—begitu sebagian warga lokal menyebutnya. Jumlah para pendatang musiman itu bukan lagi puluhan tetapi nyaris menembus angka ribuan. Sampai-sampai, saat hari raya Lebaran, jalan masuk ke pantai macet total.
Pantai Pelabuhan Ratu merupakan pantai teluk yang memiliki keindahan yang unik, yakni perpaduan antara pantai yang curam, pantai landai, karang terjal, hempasan ombak dan hutan cagar alam. Di lingkungan pantai para wisatawan dapat dengan leluasa menikmati kehangatan tropis seraya menyaksikan ombak yang bergulung-gulung menerpa batu karang.
Harus diakui, keindahan sepanjang pantai selatan Pelabuhan Ratu tak bisa dilepaskan dari cerita misteri seputar Nyai Roro Kidul. Seorang wanita yang dipercayai warga sebagai ratu penguasa pantai selatan.
Sebagian besar wisatawan lokal datang karena ada latar misteri selain hasrat memandang ombak tadi. Sedang kolega mereka dari mancanegara, tergelitik menonton ritual unik yang kerap kali digelar para nelayan Pelabuhan Ratu sebagai ungkapan terima kasih kepada sang Penguasa Laut.
Memang, sejauh ini misteri Nyai Roro Kidul masih menjadi sesuatu yang menarik untuk diketahui masyarakat. Meski ceritanya masih simpang siur, tetapi tak sedikit masyarakat yang mempercayai kebenaran cerita itu. Namun, bagi para nelayan, misteri Nyai Roro Kidul telah menjadi bagian hidup yang turun-temurun dan membudaya.

Makam Nyai Roro Kidul
Untuk pencinta ombak, pantai Karang Hawu tak bisa dilepaskan begitu saja. Letak pantai ini cuma 20 kilometer dari kota Pelabuhan Ratu. Di sini, kita bisa menikmati keunikan pantai karang yang menjorok ke laut dan berlubang di beberapa bagian itu. Bentuk karangnya lebih mirip tungku, dalam bahasa Sunda disebut Hawu. Perpaduan keunikan karang dengan ombak yang bergemuruh itu rasanya makin terasa komplet.
Di belakang garis pantai, menyembul bukit-bukit yang rindang oleh pepohonon. Kawasan ini cukup dikenal untuk kegiatan mendaki dan menyusuri. Tebing-tebing yang menjorok ke pantai diakibatkan karena aliran lava yang berhenti di sini. Konon, salah satu tebing tersebut merupakan tempat Nyai Roro Kidul menceburkan diri ke laut. Alasannya frustasi menghadapi penyakit yang diderita. Ia pun lalu menjelma jadi Ratu Laut Selatan nan sakti mandraguna.
Salah satu bukit itu ada yang dikeramatkan warga lokal. Di sini, terdapat kompleks makam, satu di antaranya dipercaya sebagai makam Nyai Roro Kidul. Pada hari tertentu, makam ramai dikunjungi orang yang ingin menemui Nyai Roro Kidul.
Makam penguasa pantai selatan itu ada di ruangan khusus. Sebuah lukisan besar yang menggambarkan sosok Nyi Mas Ratu Dewi Roro Kidul menjadi penghias ruangan. Ruang ini sendiri didekorasi dengan dominasi warna merah. Di sebelahnya, terdapat makam Eyang Sanca Manggala, Eyang Jalah Mata Makuta dan Eyang Syeh Husni Ali.
Selain pantai Karang Hawu, ada beberapa lokasi lain yang ramai dikunjungi. Sebut saja, pantai Cibareno, Cimaja, Cibangban, Break Water, Citepus Kebon Kelapa dan Tanjo Resmi. Khusus pada pantai yang terakhir, kita bisa melihat istana peristirahatan Presiden pertama negara ini, Sukarno. Istana ini dibangun pada 1960 dan punya panorama yang amat bagus.

Ombak Adalah Kesempatan
Kalau orang memandang ombak sebagai pelepas penat sekaligus penyimpan misteri, Andry Cahya justru punya perspektif berbeda. Baginya, ombak tak lebih dari sebuah kesempatan. Peluang manis yang tak boleh dilewatkan begitu saja. Kesempatan bagus biasanya tak datang dua kali.
Datang dari Jakarta menuju Pelabuhan Ratu, pada akhir pekan, bukan ”barang” baru bagi Andry. Jalan aspal sempit sejauh lebih kurang 171 kilometer bukan jadi halangan. Sejak 1997, ia telah terbiasa ber-weekend ke sini.
Tentu kemauan sungguh-sungguh itu berlandaskan sesuatu. Pria berambut ikal ini memang sengaja mencari ombak untuk menuntaskan hasrat. Ya, apalagi kalau bukan kesenangan bermain-main dengan ombak alias surfing.
Berbekal papan selancar buatan Australia, pagi-pagi sekali Andry sudah nongkrong di garis pantai. Matanya sibuk mencari-cari ombak bagus untuk diajak bermain. Pelan tapi pasti, papan selancar dikayuh ke tengah. Beberapa saat ia menunggu kedatangan ombak.
Kesenangannya makin bertambah saat Linsday, seorang ekspatriat asal Australia ikut bergabung. Kedua anak manusia berbeda bangsa itu berteriak-teriak girang ketika ombak yang ditunggu muncul.
”Saat ini memang bukan waktu yang tepat buat main. Sekarang lagi musim angin barat, susah cari ombak yang bagus. Tapi mau gimana lagi, saya sudah kepengen banget main,” ujar Andry yang berusia 34 tahun itu.
Di penghujung Februari, cuaca sama sekali tak bersahabat bagi siapa saja. Angin kencang dengan dibarengi pasang naik. Namun ombaknya sama sekali tak bagus untuk main surfing. Walau sudah berpindah beberapa lokasi, Andry dan Lindsay terlihat kurang bahagia. Kata mereka, waktu yang paling cocok, antara Mei sampai Oktober tiap tahunnya. Namun apa daya, karena hasrat sudah diubun-ubun, ombak tetap harus dicari.
Ini berarti, feeling harus tambah tajam. Kalau tidak, ombak yang tak tentu itu bisa hilang. Kalau sudah begitu, hilang pula kesenangan.
Di seputar Pelabuhan Ratu, paling tidak ada sembilan titik lokasi main surfing. Denny Komeng, pemuda lokal yang ikut keranjingan hobi ekstrem ini dengan tangkas menyebut satu per satu. Dari Batu Guram, Karang Sari, Samudra Beach, Cimaja, Karang Haji, Indicator, Sunset Beach, Ombak Tujuh sampai Ujung Genteng.
Masing-masing pantai punya sajian spesial. Tiap lokasi karakteristik ombak berbeda-beda. Rata-rata para peselancar menunjuk pantai Cimaja sebagai lokasi ideal. ”Ombaknya bisa sampai tiga meter. Di sini, tipe ombaknya point break, artinya si ombak pecah pada karang. Jadi lebih menantang,” timpal Zoufikar Imani, petualang ombak dari Jakarta.
Karena jadi favorit, Cimaja seringkali jadi tuan rumah beragam kejuaraan surfing. Dari tingkat nasional sampai kelas lokal, seperti Bupati Cup. Jadi jangan heran bila di daerah ini napasnya betul-betul serba surfing. Segala kebutuhan peselancar bisa didapat, rental papan selancar pun ada.
Agar tak ketinggalan dengan para pendatang, jago-jago lokal ikut menempa diri di sini. Kata Denny, pantai ini ditemukan pertama kali sebagai lokasi selancar oleh Arya Subiakto, peselancar kawakan dari Ibu Kota. Tahunnya antara 1978–1979.
Kalau tak doyan surfing, kita masih bisa melakukan aktivitas air lainnya. Masih ada diving, arung jeram atau mancing. Paling sial, berenang di pantai Cibangban.
Untuk kegiatan di darat, ada acara jalan-jalan menuju sumber air panas di Cisolok. Letaknya sekitar 17 kilometer dari kota Pelabuhan Ratu. Sumber air panas ini sangat cocok untuk membersihkan kulit dari segala macam penyakit. Maklum, airnya mengandung unsur belerang yang tinggi. Asyik kan?

Pantai Pangandaran


PDF Cetak E-mail



Kawasan Pantai Pangandaran merupakan salah satu objek wisata andalan Kabupaten Ciamis dan Provinsi Jawa Barat. Bahkan, kawasan yang berada di Pantai Selatan Jawa ini masuk dalam agenda kunjungan wisata Indonesia tahun 2008. Karena itu, pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata dan Budaya setempat, terus membenahi dan melengkapi berbagai fasilitas penunjang kawasan wisata Pantai Pangandaran.
Keistimewaan

Pengunjung dapat menikmati panorama alam Pantai Pangandaran yang indah dan hamparan landai pasir putih pantainya yang memesona. Dua bukit yang mengapit Pantai Pangandaran membuat angin berhembus pelan dan riak ombak lautnya relatif kecil, sehingga pengunjung nyaman melakukan berbagai aktivitas, seperti berenang menggunakan ban, berperahu mengelilingi semenanjung, memancing, bersantai di pantai, atau sekadar mencerap keindahan alamnya dari pondok-pondok wisata yang banyak terdapat di kawasan tersebut. Selain itu, pengunjung dapat melihat terbit dan terbenamnya matahari dari tempat yang sama.

Bagi pengunjung yang ingin menyelam, di kawasan ini terdapat taman laut dengan aneka fauna dan flora lautnya yang indah.

Jalan di sekitar pantai ini sudah beraspal mulus, sehingga memudahkan pengunjung yang ingin mengelilingi kawasan tersebut dengan kendaraan bermotor atau sepeda. Bila malam tiba, pengunjung tetap akan merasa nyaman berada di Pantai Pangandaran, karena kawasan tersebut telah dilengkapi dengan lampu penerangan yang memadai.

Setiap akhir pekan, biasanya digelar pertunjukan seni tradisional Jawa Barat. Selain itu, pada bulan-bulan tertentu digelar berbagai event, seperti hajat laut nelayan Pangandaran pada bulan Maret, nyiar lumar pada bulan Juni, festival layang-layang internasional (Pangandaran International Kite Festival) pada bulan Juli, karnaval perahu hias pada bulan Agustus, lomba memancing pada bulan September, wisata lintas alam dan off road pada bulan Oktober, dan pesta perayaan tahun baru pada bulan Desember.

Lokasi

Pantai Pangandaran terletak di Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, Indonesia.

Akses

Dari Bandung, pengunjung dapat menggunakan rute Bandung – Tasikmalaya - Pangandaran. Jaraknya sekitar 236 kilometer. Selain dengan bus, pengunjung dapat naik kereta api sampai stasiun Banjar. Dari Banjar, perjalanan dilanjutkan dengan naik bus sampai Pangandaran.

Dari Yogyakarta, pengunjung dapat menggunakan rute Yogyakarta - Cilacap - Banjar - Pangandaran. Jaraknya sekitar 385 kilometer. Selain dengan bus, pengunjung dapat naik kereta api sampai stasiun Banjar. Dari Banjar, perjalanan dilanjutkan dengan naik bus sampai Pangandaran.

Akomodasi dan Fasilitas

Di kawasan wisata Pantai Pangandaran terdapat berbagai fasilitas penunjang, seperti areal parkir yang luas dan aman, hotel dan wisma dengan berbagai tipe, tim SAR, pondok wisata, bumi perkemahan, pramu wisata, dan pusat informasi pariwisata.

Di samping itu, di kawasan tersebut terdapat fasilitas lainnya, seperti bank, ATM, money changer, restoran, warung makan, gedung bioskop, diskotik, tempat penyewaan sepeda dan ban, jet ski, kantor pos, wartel, voucher isi ulang pulsa, para sailing, serta sentra oleh-oleh dan outlet cinderamata.

Ujung Genteng

Ujung Genteng merupakan daerah pesisir pantai selatan Jawa Barat yang terletak di desa Gunung Batu, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi dengan jarak tempuh sekitar 220 kilometer dari Ibu Kota Jakarta atau 230 kilometer dari Kota Bandung. Waktu tempuhnya sekitar enam atau tujuh jam perjalanan bermobil. Selain jalannya cukup mulus juga terdapat beberapa jalur alternatif serta sarana angkutan umum yang memadai menuju tempat tujuan.

Pantai Ujung Genteng memiliki karakteristik umumnya pantai selatan Pulau Jawa yang terkenal bersih airnya dan ombaknya yang besar. Walaupun demikian, pantai ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan pantai Pelabuhan Ratu yang terkenal rawan dan sering merenggut korban jiwa karena ombaknya yang ganas. Walaupun pantai Ujung Genteng menghadap bebas ke Samudera Hindia, namun ombaknya yang besar tak membahayakan pelancong yang gemar bermain-main di laut. Ombak besar dari tengah samudera lebih dulu pecah berserak lantaran terhalang gugusan karang laut di depan bibir pantai, sehingga kita dapat menikmati alam dengan pantai yang indah, aman, dan nyaman. Anak-anak boleh berenang di laut sepuasnya dan memungkinkan memandang sekumpulan ikan berwarna-warni di sela-sela batu karang, menandakan betapa alaminya lingkungan Ujung Genteng.

Di daerah Ujung Genteng sendiri terdapat banyak tempat menarik, seperti melihat langsung penyu hijau (Chelonia Mydas) di pantai Pangumbahan. Ada juga lokasi di mana Anda bisa berselancar di atas ombak yang cukup menantang yang terkenal dengan sebutan ”ombak tujuh”. Lokasi ini merupakan kawasan favorit bagi wisatawan mancanegara untuk olahraga selancar. Sebutan ombak tujuh menurut penduduk karena ombaknya selalu berurutan tujuh ombak dan selalu besar-besar. Untuk yang suka memancing, di Ujung Genteng merupakan tempat yang cocok di mana ikannya cukup banyak dan bervariasi.

Disamping objek wisata alam, Ujunggenteng juga memiliki objek wisata dalam bentuk proses pembuatan gula kelapa oleh masyarakat setempat. Pembuatannya sederhana sekali yakni dengan memanfaatkan perkebunan kelapa luas, para penduduk memasang bokor untuk menampung cairan dari kembang kelapa lalu di kumpulkan dan dimasak dikuali lalu dicetak dengan potongan bambu yang ukurannya lebih besar dari ukuran gula kelapa yang ada di pasaran.

Minggu, 26 Oktober 2008

Candi Borobudur

Borobudur (1)
  • Borobudur (2)
  • Borobudur (3)
  • Borobudur (4)
  • Borobudur (5)

Borobudur, Candi Budha Terbesar di Abad ke-9

Siapa tak kenal Candi Borobudur? Candi Budha ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa Budha di kompleksnya. Jutaan orang mendamba untuk mengunjungi bangunan yang termasuk dalam World Wonder Heritages ini. Tak mengherankan, sebab secara arsitektural maupun fungsinya sebagai tempat ibadah, Borobudur memang memikat hati.

Borobudur dibangun oleh Raja Samaratungga, salah satu raja kerajaan Mataram Kuno, keturunan Wangsa Syailendra. Berdasarkan prasasti Kayumwungan, seorang Indonesia bernama Hudaya Kandahjaya mengungkapkan bahwa Borobudur adalah sebuah tempat ibadah yang selesai dibangun 26 Mei 824, hampir seratus tahun sejak masa awal dibangun. Nama Borobudur sendiri menurut beberapa orang berarti sebuah gunung yang berteras-teras (budhara), sementara beberapa yang lain mengatakan Borobudur berarti biara yang terletak di tempat tinggi.

Bangunan Borobudur berbentuk punden berundak terdiri dari 10 tingkat. Tingginya 42 meter sebelum direnovasi dan 34,5 meter setelah direnovasi karena tingkat paling bawah digunakan sebagai penahan. Enam tingkat paling bawah berbentuk bujur sangkar dan tiga tingkat di atasnya berbentuk lingkaran dan satu tingkat tertinggi yang berupa stupa Budha yang menghadap ke arah barat. Setiap tingkatan melambangkan tahapan kehidupan manusia. Sesuai mahzab Budha Mahayana, setiap orang yang ingin mencapai tingkat sebagai Budha mesti melalui setiap tingkatan kehidupan tersebut.

Bagian dasar Borobudur, disebut Kamadhatu, melambangkan manusia yang masih terikat nafsu. Empat tingkat di atasnya disebut Rupadhatu melambangkan manusia yang telah dapat membebaskan diri dari nafsu namun masih terikat rupa dan bentuk. Pada tingkat tersebut, patung Budha diletakkan terbuka. Sementara, tiga tingkat di atasnya dimana Budha diletakkan di dalam stupa yang berlubang-lubang disebut Arupadhatu, melambangkan manusia yang telah terbebas dari nafsu, rupa, dan bentuk. Bagian paling atas yang disebut Arupa melambangkan nirwana, tempat Budha bersemayam.

Setiap tingkatan memiliki relief-relief indah yang menunjukkan betapa mahir pembuatnya. Relief itu akan terbaca secara runtut bila anda berjalan searah jarum jam (arah kiri dari pintu masuk candi). Pada reliefnya Borobudur bercerita tentang suatu kisah yang sangat melegenda, yaitu Ramayana. Selain itu, terdapat pula relief yang menggambarkan kondisi masyarakat saat itu. Misalnya, relief tentang aktivitas petani yang mencerminkan tentang kemajuan sistem pertanian saat itu dan relief kapal layar merupakan representasi dari kemajuan pelayaran yang waktu itu berpusat di Bergotta (Semarang).

Keseluruhan relief yang ada di candi Borobudur mencerminkan ajaran sang Budha. Karenanya, candi ini dapat dijadikan media edukasi bagi orang-orang yang ingin mempelajari ajaran Budha. YogYES mengajak anda untuk mengelilingi setiap lorong-lorong sempit di Borobudur agar dapat mengerti filosofi agama Budha. Atisha, seorang budhis asal India pada abad ke 10, pernah berkunjung ke candi yang dibangun 3 abad sebelum Angkor Wat di Kamboja dan 4 abad sebelum Katedral Agung di Eropa ini.

Berkat mengunjungi Borobudur dan berbekal naskah ajaran Budha dari Serlingpa (salah satu raja Kerajaan Sriwijaya), Atisha mampu mengembangkan ajaran Budha. Ia menjadi kepala biara Vikramasila dan mengajari orang Tibet tentang cara mempraktekkan Dharma. Enam naskah dari Serlingpa pun diringkas menjadi sebuah inti ajaran disebut "The Lamp for the Path to Enlightenment" atau yang lebih dikenal dengan nama Bodhipathapradipa.

Salah satu pertanyaan yang kini belum terjawab tentang Borobudur adalah bagaimana kondisi sekitar candi ketika dibangun dan mengapa candi itu ditemukan dalam keadaan terkubur. Beberapa mengatakan Borobudur awalnya berdiri dikitari rawa kemudian terpendam karena letusan Merapi. Dasarnya adalah prasasti Kalkutta bertuliskan 'Amawa' berarti lautan susu. Kata itu yang kemudian diartikan sebagai lahar Merapi. Beberapa yang lain mengatakan Borobudur tertimbun lahar dingin Merapi.

Dengan segala kehebatan dan misteri yang ada, wajar bila banyak orang dari segala penjru dunia memasukkan Borobudur sebagai tempat yang harus dikunjungi dalam hidupnya. Selain menikmati candinya, anda juga bisa berkeliling ke desa-desa sekitar Borobudur, seperti Karanganyar dan Wanurejo untuk melihat aktivitas warga membuat kerajinan. Anda juga bisa pergi ke puncak watu Kendil untuk dapat memandang panorama Borobudur dari atas. Tunggu apa lagi? Tak perlu khawatir gempa 27 Mei 2006, karena Borobudur tidak terkena dampaknya sama sekali.

Colosseum After The Rain

Beberapa hari setelah Kongian ( Imlek 2559 ) cuaca di Cibubur basah terus dan lembab oleh hujan dan gerimis. Pagi, siang , sore dan malam hari always be raining. Cuaca yang bikin semua orang di Legenda Wisata pasti merasakan sesuatu yang sendu dan adem. Ini bulan-bulan ketika hujan terus mengguyur Legenda Wisata dan Cibubur sekitarnya.
Colosseum kantor pemasaran ini menggigil karena basah hujan awal February. Menurut tradisi Tionghoa , kalau Imlek hujan terus turun artinya tahun ini akan banyak rejeki dan kemakmuran . ( Bukankah tiap hari dan tiap bulan juga banyak rejeki kayak tahun-tahun dulu ?) Entahlah. Yang penting cuaca begini membuat Legenda Wisata menjadi tempat yang sangat comfortable ditinggali beserta keluarga.
Gedung asli Colosseum adalah sebuah gedung dengan bentuk lonjong ( Elliptical) yang dibangun sekitar tahun 70-72 Masehi dibawah Kaisar Vespasius dan baru selesai 18 tahun kemudian oleh Kaisar Titus. Nama asli gedung ini dulu bernama Amphitheatrum Flavium dalam bahasa Latin, atau Anfiteatro Flavio atau Colosseo dalam bahasa Italia. Nama Flavium adalah nama keluarga dari dinasty Flavius yang menurunkan Kaisar Titus dan Vespasius.
Kalau suka nonton Film Gladiator, maka rekonstruksi secara digital dalam film itu sangat menyakinkan untuke membanwa kita balik ke abad awal puncak-puncak kejayaan kekaisaran Romawi. Walaupun pernah di hancurkan dan diluluhlantakan oleh 2 kali gempa bumi , dan juga dijadikan sasaran oleh pengumpul batu untuk dijual, gedung berumur 2 millenium masih bertahan sampai sekarang. It is a miracle !

Tembok besar Cina

China merupakan sebuah negara yang mempunyai sejarah lama, kebudayaan cemerlang dan kaya dengan sumber pelancongan. 29 Warisan Alam dan Warisan Budaya Dunia yang wujud di China memperlihatkan kecerdikan dan kerajinan rakyat China. Jumlah Warisan Dunia yang wujud di China itu menempati kedudukan ke-3 di dunia. Tembok Besar atau Great Wall China digelar sebagai salah satu antara "7 keajaiban dunia". Tembok Besar China merupakan projek pertahanan ketenteraan zaman purba yang masa pembinaannya paling panjang dan projeknya paling besar di dunia. Tembok Besar China sepanjang lebih 7 ribu kilometer.

Tembok Besar China mula dibina pada abad ke-9 sebelum Masihi. Demi menghalang pencerobohan suku kaum di bahagian utara, pemerintah di tengah China pada waktu itu telah membina tembok yang menyambungkan kubu-kubu pertahanan di kawasan sempadan, itulah Tembok Besar yang paling awal. Sehingga Zaman Negeri-negeri Berperang, perang berlaku terus-menerus antara bangsawan dan raja pelbagai negeri. Demi menghalang serangan negeri lain, pelbagai negeri masing-masing telah membina Tembok Besar di kawasan pergunungan. Pada tahun 221 sebelum Masihi, Maharaja Qinshihuang Dinasti Qin telah menyatukan China. Baginda menyambungkan Tembok Besar yang dibina oleh pelbagai negeri sepanjang lebih 5 ribu kilometer bagi memghalang serangan askar suku kaum normad di padang rumput Mongolia di sebelah utara. Selepas Dinasti Qin, Dinasti Han telah memanjangkan Tembok Besar itu sehingga lebih 10 ribu kilometer. Dalam masa selama lebih 2 ribu tahun yang lalu, penguasa pelbagai dinasti China masing-masing telah membina Tembok Besar, panjang keseluruhannya mencatat 50 ribu kilometer, lebih panjang daripada satu lingkaran bumi. Projek Tembok Besar sungguh menakjubkan.

Tembok Besar yang disebut umum itu adalah Tembok Besar yang dibina pada zaman Dinasti Ming iaitu dari tahun 1368 hingga tahun 1644. Hujung baratnya sehingga di genting Jiayuguan di Provinsi Gansu di barat laut China dan hujung timurnya di pinggir Sungai Yalujiang di Provinsi Liaoning di timur laut China, panjangnya mencatat 7,300 kilometer.

Sebagai projek pertahanan ketenteraan, Tembok Besar dibina menurut tinggi rendah lereng gunung dan melintasi padang pasir, padang rumput dan tanah paya. Tukang bina zaman purba China telah membina struktur yang berbeza-beza berdasarkan keadaan muka bumi yang berbeza dan telah memperlihatkan kepakaran dan kecerdikan mereka.

Tembok Besar umumnya dibina di puncak gunung, di sebelahnya adalah lereng gunung terjal yang curam. Tentera musuh sukar untuk melancarkan serangan terhadap tentera yang bertahan di Tembok Besar.

Tembok Besar dibina dengan batu dan batu bata panjang, tengahnya diisi dengan tanah atau ketulan batu. Tinggi Tembok Besar umumnya belasan meter dan lebar di atas Tembok Besar itu kira-kira 5 meter, 4 orang askar yang menunggang kuda dapat berjalan sejajar di atasnya, senjata dan bahan makanan dapat diangkut di atasnya. Askar boleh turun dan naik menerusi tangga dan pintu yang dibina di sebelah dalam. Banyak kubu pertahanan telah dibina di sepanjang Tembok Besar. Kubu pertahanan itu mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama ialah tempat askar berlindung semasa berperang. Mereka juga boleh berehat di kubu itu pada waktu aman disamping menjadi tempat menyimpan senjata dan bekalan bahan makanan, apabila musuh menyerang, tahi serigala dibakar di atas kubu pertahanan tersebut membentuk asap untuk menyampaikan isyarat bahaya dengan segera.

Tembok Besar China yang termasyhur itu mengandungi semangat dan perasaan bangsa China dan kini telah menjadi lambang bangsa China. Pada tahun 1987, Tembok Besar China telah disenaraikan sebagai Warisan Dunia.